Makalah Farmakologi II
Resistensi
Silang (cross-resistance)
Disusun
Oleh
Fauzi
1202101010006
Kelas B
FAKULATAS KEDOKETRAN HEWAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
2014
K A T A P E N G A N T A R
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT yang
telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya sehingga penyusunan
makalah,dengan judul “Resistensi Silang (cross-resistance) “ ini berjalan lancar dan terselesaikan dengan
baik. Makalah ini disusun dengan tujuan untuk memenuhi tugas Farmakologi
veteriner II dan menambah pengetahuan Mahasiswa, khususnya mahasiswan Fakultas
kedokteran Hewan (FKH) universitas syiah Kuala didalam bidang faramakologi
terutama yang berhubungan dengan obatan-obatan yang digunakan sebagai Antimikroba
dan beberapa macam resistensi yang sering terjadi terutama resistensi silang
yang sesuai dengan judul makalah ini.
Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat serta menjadi jembatan
bagi penyusunan makalah selanjutnya. Penulis
menyadari bahwa dalam penyusunan makalah
ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang
sifatnya membangun sangat kami harapkan.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
Banda Aceh, Juli 2014
Fauzi
1202101010006
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Setiap antibiotik sangat beragam efektivitasnya dalam melawan berbagai
jenis bakteri. Ada antibiotika yang membidik bakteri gram negatif atau gram
positif saja, dan ada pula yang spektrumnya lebih luas, melawan ke duanya.
Kemampuan antibiotika dalam menyembuhkan juga bergantung pada lokasi infeksi dan
kemampuan antibiotik mencapai lokasi tersebut. Di samping itu, berkat kemajuan
teknologi farmasi, pemakaian antibiotika generasi terakhir tidaklah seruwet
sebelumnya. Banyak antibiotika kini digunakan dua kali sehari. Malah ada juga
yang 1 kali sehari, dengan kemampuan membunuh kuman yang lebih prima.
Bakteri juga mahluk hidup. Mereka rupanya mengadakan berbagai “upaya dan
konsolidasi” untuk melawan serangan antibiotika. Karena sering terpapar
antibiotika yang tidak terkontrol penggunaannya, banyak kuman yang resisten
terhadap antibiotika. Antibiotika yang tadinya ampuh membunuh kuman,
perlahan-lahan mulai tidak mampu membunuh kuman.
Resistensi antibiotika merupakan suatu masalah yang besar dan berkembang
diseluruh dunia. Kuman-kuman resisten yang muncul akibat penggunaan antibitoka
yang berlebihan, akan menimbulkan masalah yang serius dan sulit diatasi
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan resistensi silang
(cross-resistance )?
2. Apa penyebab resistensi silang
(cross-resistance) ?
3. Bagaimana mekanisme atau proses terjadinya
(cross-resistance) ?
1.2 Tujuan
1. Mengetahui defenisi dari resistensi silang (cross-resistance)
2. Mengetahui
Penyebab dari resistensi silang
3.
Mengetahui mekanisme terjadinya resistensi silang
BAB II
ISI
1. Defenisi Antibiotika
Antibiotika berasal dari kata Anti yang berarti lawan dan Bios berarti
hidup. antibiotika dapat didefinisikan sebagai semua senyawa kimia yang
dihasilkan oleh organisme hidup atau yang diperoleh melalui sintesis yang
memiliki indeks khemoterapi tinggi, yang manifestasi aktivitasnya terjadi pada
dosis yang sangat rendah secara spesifik melalui inhibisi proses vital tertentu
pada virus, mikroorganisme ataupun juga berbagai organisme bersel majemuk.
Antibiotika adalah zat kimia yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri, yang
memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman, sedang
toksisitasnya bagi manusia relatif kecil.Akan tetapi, berhubung dengan sifat
toksisnya bagi manusia, hanya sebagian kecil saja yang digunakan sebagai obat,
antara lain streptomisin (1944), Chloramphenicol (1947), tetrasiklin (1948),
Eritromisin (1952), Rifampisin (1960),bleomisin (1965) dan doksorubisin (1969).
Selain dalam bentuk obat minum (oral), ada juga dalam bentuk suntikan
(parenteral), salep, krim, supositoria (dimasukkan ke liang dubur atau vagina);
lotion, dan tetes. Infeksi kulit memakai salep atau krim antibiotika, infeksi
mata merah memakai tetes atau salep mata, infeksi telinga tengah memakai tetes
kuping antibiotika, keputihan kuman dipakai antibiotika berbentuk peluru yang
dimasukkan ke dalam vagina.
Membubuhi serbuk antibiotika pada lubang gigi yang sakit seperti kebiasaan
sementara orang atau pada luka, tidak terlalu tepat. Efek penembusan
antibiotika ke jaringan gusi yang terinfeksi tidak sebaik jika diminum, atau
bisa menyerap optimal seperti antibiotika yang sudah dalam bentuk salep atau
krim jika untuk dipakai pada kulit.
2.
Defenisi
Resistensi
Resistensi adalah mekanisme tubuh yang secara keseluruhan membuat rintangan
untuk berkembangnya penyerangan atau pembiakan agent menular atau kerusakan
oleh racun yang dihasilkannya.
Resistensi antibiotika timbul bila suatu antibiotika kehilangan
kemampuannya untuk secara efektif mengendalikan atau membasmi pertumbuhan
bakter; dengan kata lain bakteri mengalami “resistensi” dan terus
berkembangbiak meskipun telah diberikan antibiotika dalam jumlah yang cukup
untuk pengobatan.
3.
Mekanisme
terjadinya Resistensi
Untuk mendapatkan efek terapi,antibiotika pertama kali harus mencapai
target kedalam sel kuman. Kuman gram negatif mempunyai outer membrane yang
sedikit menghambat antibiotika masuk kedalam sitoplasma. Selanjutnya apabila
terjadi mutasi dari lubang pori outer membrane berakibat antibiotika menjadi
lebih sulit masuk kedalam sitoplasma atau menurunnya permeabilitas membrane
terhadap antibiotika,oleh karena lubang pori dari outer membrane tersebut tidak
bersifat selektif maka satu mutasi dari pori tersebut dapat menghambat masuknya
lebih dari satu jenis antibiotika.
Ada berbagai mekanisme yang menyebabkan suatu populasi kuman mejadi
resisten terhadap antibiotika, mekanisme itu antara lain :
1.
Mikroorganisme memproduksi enzym yang merusak daya
kerja obat, contohnya adalah stafilokokus yang resisten terhadap penisilin
disebabkan karena stafilokokus memproduksi enzym beta laktam yang memecah
cincin beta laktam dari penisilin sehingga penisilin tidak aktif lagi bekerja.
2.
Terjadinya perubahan permeabilitas kuman terhadap obat
tertentu, contohnya adalah streptokokus yang mempunyai barier alami terhadap
obat golongan aminoglikosida.
3.
Terjadinya perubahan pada tempat tertentu dalam sel
sekelompok mikroorganisme yang menjadi target obat, misalnya obat golongan
aminoglikosida yang memecah atau membunuh kuman karena obat ini merusak sistem
ribosom sub unit 30S. Bila oleh suatu hal,tempat/lokus kerja obat pada ribosom
sub unit 30S berubah, maka kuman tidak lagi sensitif terhadap golongan obat
ini.
4.
Terjadinya perubahan pada metabolic pathway yang
menjadi target obat,misalnya kuman yang resisten terhadap obat golongan sulfonamida,
tidak memerlukan PABA dari luar sel, tapi dapat menggunakan asam folat,
sehingga sulfonamida yang berkompetisi dengan PABA tidak berpengaruh pada
metabolisme sel.
4. Resistensi silang
Satu populasi kuman yang resisten terhadap satu obat tertentu dapat pula
resisten terhadap obat yang lain yang mempunyai mekanisme kerja obat yang mirip
satu sama lain. Hal ini misalnya terjadi pada obat-obatan yang komposisi
kimianya hampir sama, misalnya antara polimiksin B dengan kolistin,
eritromisin dengan oleandomisin, dan neomisin dengan kanamisin.
Resistensi
silang adalah fenomena di mana resistensi terhadap satu obat yang
digunakan untuk mengobati penyakit mendorong resistensi terhadap obat lain
dalam kelas obat yang sama.
Resistensi silang (cross-resistance)
adalah kejadian dimana kuman yang resisten terhadap suatu antibiotikum adalah
resisten pula terhadap semua derivatnya, misalnya penisilin dengan ampisilin
dan amoksisilin. Begitu juga terdapat resitensi silang antara misalnya turunan
tetrasiklin, berbagai jenis sulfonamida, antara linkomisin dan klindamisin,
juga antara rifampisin dan rifampisin.
Resistensi
silang adalah resistensi terhadap suatu antibiotikum dapat menyebabkan resisten
terhadap semua derivatnya. Resistensi antibiotik ini dapat disebabkan karena
penggunaan antibiotik yang tidak rasional. Pengobatan rasional itu meliputi
tepat indikasi, tepat pasien, tepat dosis, tepat cara pemberian dan tepat lama
pemberian obat.
Berbagai hal
yang diduga menjadi penyebab resistensi :
- Pemberian antibiotik pada infeksi yang disebabkan
oleh virus, padahal infeksi ini dapat sembuh sendiri tanpa harus diberikan
antibiotik
- Pemberian antibiotik yang dosisnya melebihi dosis
lazim
- Pemilihan antibiotik yang tidak melihat jenis
mikroba penyebab infeksi
- Penggunaan antibiotik yang tidak dihabiskan oleh
pasien karena beranggapan sudah sembuh jadi tidak perlu lagi menghabiskan
antibiotik
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Timbulnya resistensi dari populasi kuman terhadap berbagai jenis
antibiotika menimbulkan banyak problem dalam pengobatan penyakit infeksi,
khususnya di rumah sakit di mana digunakan antibiotika dosis tinggi dan dalam
intensitas yang besar, ditambah lagi dengan munculnya jenis kuman yang henjadi
sumber utama infeksi. Banyak faktor yng mempengaruhi munculnya kuman resisten
terhadap antibiotika, faktor yang paling penting adalah faktor penggunaan
antibiotika dan pengendalian infeksi. Oleh karena itu penggunaan antibiotika
secara bijaksana merupakan hal yang sangat penting, disamping penerapan
pengendalian infeksi secara baik untuk mencegah berkembangnya kuman-kuman
resisten tersebut kemasyarakat.
B. SARAN
Dianjurkan kepada setiap dokter dimanapun untuk lebih berhati-hati
menggunakan obat antibiotika dalam dosis yang cukup tinggi dan mencegah
pemakaian obat-obat antibiotika yang poten, sehingga mengurangi atau memperlamb
resistensi terhadap antibiotika.Resistensi antibiotika adalah akibat yang harus
ditanggung jika menggunakan antibiotika secara tak tepat. Kita butuh dosis yang
lebih besar bila terjadi resistensi.
DAFTAR PUSTAKA
Anonimus.2014.Penjelasan Resistensi silang. http://fourseasonnews.com/2012/07/.html. ( Diakses senen,08 Juli 2014 ).
Kee,J.L
dan Hayes,E.R.1996.Farmakologi.Penerbit
buku kedokteran EGC: Jakarta.
Striner,J.L.2009.Konsep dasar farmakologi.Penerbit Buku
Kedokteran EGC :Jakarta.

thanks bang artikelnya ijin comot
BalasHapus