Selasa, 13 Januari 2015

makalah farmakologi ( resistensi silang antibiotik )

Makalah Farmakologi II


Resistensi Silang (cross-resistance)

Disusun Oleh

Fauzi
1202101010006
Kelas B









FAKULATAS KEDOKETRAN HEWAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
2014

K A T A   P E N G A N T A R

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya sehingga penyusunan makalah,dengan judul “Resistensi Silang (cross-resistance) “ ini berjalan lancar dan terselesaikan dengan baik. Makalah ini disusun dengan tujuan untuk memenuhi tugas Farmakologi veteriner II dan menambah pengetahuan Mahasiswa, khususnya mahasiswan Fakultas kedokteran Hewan (FKH) universitas syiah Kuala didalam bidang faramakologi terutama yang berhubungan dengan obatan-obatan yang digunakan sebagai Antimikroba dan beberapa macam resistensi yang sering terjadi terutama resistensi silang yang sesuai dengan judul makalah ini.
Penulis berharap makalah  ini dapat bermanfaat serta menjadi jembatan bagi penyusunan makalah selanjutnya. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah  ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat kami harapkan.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb

                                                                                        Banda Aceh,  Juli 2014



   Fauzi
                                                                                                        1202101010006               







           

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Setiap antibiotik sangat beragam efektivitasnya dalam melawan berbagai jenis bakteri. Ada antibiotika yang membidik bakteri gram negatif atau gram positif saja, dan ada pula yang spektrumnya lebih luas, melawan ke duanya. Kemampuan antibiotika dalam menyembuhkan juga bergantung pada lokasi infeksi dan kemampuan antibiotik mencapai lokasi tersebut. Di samping itu, berkat kemajuan teknologi farmasi, pemakaian antibiotika generasi terakhir tidaklah seruwet sebelumnya. Banyak antibiotika kini digunakan dua kali sehari. Malah ada juga yang 1 kali sehari, dengan kemampuan membunuh kuman yang lebih prima.
Bakteri juga mahluk hidup. Mereka rupanya mengadakan berbagai “upaya dan konsolidasi” untuk melawan serangan antibiotika. Karena sering terpapar antibiotika yang tidak terkontrol penggunaannya, banyak kuman yang resisten terhadap antibiotika. Antibiotika yang tadinya ampuh membunuh kuman, perlahan-lahan mulai tidak mampu membunuh kuman.
Resistensi antibiotika merupakan suatu masalah yang besar dan berkembang diseluruh dunia. Kuman-kuman resisten yang muncul akibat penggunaan antibitoka yang berlebihan, akan menimbulkan masalah yang serius dan sulit diatasi

1.2 Rumusan Masalah
1.  Apa yang dimaksud dengan resistensi silang (cross-resistance )?
2.  Apa penyebab resistensi silang (cross-resistance) ?
3.  Bagaimana mekanisme atau proses terjadinya (cross-resistance) ?

1.2  Tujuan

1. Mengetahui defenisi dari resistensi silang (cross-resistance)
2. Mengetahui Penyebab dari resistensi silang
3. Mengetahui mekanisme terjadinya resistensi silang
BAB II
ISI
1.      Defenisi Antibiotika
Antibiotika berasal dari kata Anti yang berarti lawan dan Bios berarti hidup. antibiotika dapat didefinisikan sebagai semua senyawa kimia yang dihasilkan oleh organisme hidup atau yang diperoleh melalui sintesis yang memiliki indeks khemoterapi tinggi, yang manifestasi aktivitasnya terjadi pada dosis yang sangat rendah secara spesifik melalui inhibisi proses vital tertentu pada virus, mikroorganisme ataupun juga berbagai organisme bersel majemuk.
Antibiotika adalah zat kimia yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri, yang memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman, sedang toksisitasnya bagi manusia relatif kecil.Akan tetapi, berhubung dengan sifat toksisnya bagi manusia, hanya sebagian kecil saja yang digunakan sebagai obat, antara lain streptomisin (1944), Chloramphenicol (1947), tetrasiklin (1948), Eritromisin (1952), Rifampisin (1960),bleomisin (1965) dan doksorubisin (1969).
Selain dalam bentuk obat minum (oral), ada juga dalam bentuk suntikan (parenteral), salep, krim, supositoria (dimasukkan ke liang dubur atau vagina); lotion, dan tetes. Infeksi kulit memakai salep atau krim antibiotika, infeksi mata merah memakai tetes atau salep mata, infeksi telinga tengah memakai tetes kuping antibiotika, keputihan kuman dipakai antibiotika berbentuk peluru yang dimasukkan ke dalam vagina.
Membubuhi serbuk antibiotika pada lubang gigi yang sakit seperti kebiasaan sementara orang atau pada luka, tidak terlalu tepat. Efek penembusan antibiotika ke jaringan gusi yang terinfeksi tidak sebaik jika diminum, atau bisa menyerap optimal seperti antibiotika yang sudah dalam bentuk salep atau krim jika untuk dipakai pada kulit.
2.      Defenisi Resistensi
Resistensi adalah mekanisme tubuh yang secara keseluruhan membuat rintangan untuk berkembangnya penyerangan atau pembiakan agent menular atau kerusakan oleh racun yang dihasilkannya.
Resistensi antibiotika timbul bila suatu antibiotika kehilangan kemampuannya untuk secara efektif mengendalikan atau membasmi pertumbuhan bakter; dengan kata lain bakteri mengalami “resistensi” dan terus berkembangbiak meskipun telah diberikan antibiotika dalam jumlah yang cukup untuk pengobatan.
3.      Mekanisme terjadinya Resistensi
Untuk mendapatkan efek terapi,antibiotika pertama kali harus mencapai target kedalam sel kuman. Kuman gram negatif mempunyai outer membrane yang sedikit menghambat antibiotika masuk kedalam sitoplasma. Selanjutnya apabila terjadi mutasi dari lubang pori outer membrane berakibat antibiotika menjadi lebih sulit masuk kedalam sitoplasma atau menurunnya permeabilitas membrane terhadap antibiotika,oleh karena lubang pori dari outer membrane tersebut tidak bersifat selektif maka satu mutasi dari pori tersebut dapat menghambat masuknya lebih dari satu jenis antibiotika.
Ada berbagai mekanisme yang menyebabkan suatu populasi kuman mejadi resisten terhadap antibiotika, mekanisme itu antara lain :
1.      Mikroorganisme memproduksi enzym yang merusak daya kerja obat, contohnya adalah stafilokokus yang resisten terhadap penisilin disebabkan karena stafilokokus memproduksi enzym beta laktam yang memecah cincin beta laktam dari penisilin sehingga penisilin tidak aktif lagi bekerja.
2.      Terjadinya perubahan permeabilitas kuman terhadap obat tertentu, contohnya adalah streptokokus yang mempunyai barier alami terhadap obat golongan aminoglikosida.
3.      Terjadinya perubahan pada tempat tertentu dalam sel sekelompok mikroorganisme yang menjadi target obat, misalnya obat golongan aminoglikosida yang memecah atau membunuh kuman karena obat ini merusak sistem ribosom sub unit 30S. Bila oleh suatu hal,tempat/lokus kerja obat pada ribosom sub unit 30S berubah, maka kuman tidak lagi sensitif terhadap golongan obat ini.
4.      Terjadinya perubahan pada metabolic pathway yang menjadi target obat,misalnya kuman yang resisten terhadap obat golongan sulfonamida, tidak memerlukan PABA dari luar sel, tapi dapat menggunakan asam folat, sehingga sulfonamida yang berkompetisi dengan PABA tidak berpengaruh pada metabolisme sel.


4.      Resistensi silang
Satu populasi kuman yang resisten terhadap satu obat tertentu dapat pula resisten terhadap obat yang lain yang mempunyai mekanisme kerja obat yang mirip satu sama lain. Hal ini misalnya terjadi pada obat-obatan yang komposisi kimianya ham­pir sama, misalnya antara polimiksin B dengan kolistin, eritromisin dengan oleandomisin, dan neomisin dengan kanamisin.
Resistensi silang adalah fenomena di mana resistensi terhadap satu obat yang digunakan untuk mengobati penyakit mendorong resistensi terhadap obat lain dalam kelas obat yang sama.
Resistensi silang (cross-resistance) adalah kejadian dimana kuman yang resisten terhadap suatu antibiotikum adalah resisten pula terhadap semua derivatnya, misalnya penisilin dengan ampisilin dan amoksisilin. Begitu juga terdapat resitensi silang antara misalnya turunan tetrasiklin, berbagai jenis sulfonamida, antara linkomisin dan klindamisin, juga antara rifampisin dan rifampisin.

Resistensi silang adalah resistensi terhadap suatu antibiotikum dapat menyebabkan resisten terhadap semua derivatnya. Resistensi antibiotik ini dapat disebabkan karena penggunaan antibiotik yang tidak rasional. Pengobatan rasional itu meliputi tepat indikasi, tepat pasien, tepat dosis, tepat cara pemberian dan tepat lama pemberian obat.
Berbagai hal yang diduga menjadi penyebab resistensi :
  1. Pemberian antibiotik pada infeksi yang disebabkan oleh virus, padahal infeksi ini dapat sembuh sendiri tanpa harus diberikan antibiotik
  2. Pemberian antibiotik yang dosisnya melebihi dosis lazim
  3. Pemilihan antibiotik yang tidak melihat jenis mikroba penyebab infeksi
  4. Penggunaan antibiotik yang tidak dihabiskan oleh pasien karena beranggapan sudah sembuh jadi tidak perlu lagi menghabiskan antibiotik



BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Timbulnya resistensi dari populasi kuman terhadap berbagai jenis antibiotika menimbulkan banyak problem dalam pengobatan penyakit infeksi, khususnya di rumah sakit di mana digunakan antibiotika dosis tinggi dan dalam intensitas yang besar, ditambah lagi dengan munculnya jenis kuman yang henjadi sumber utama infeksi. Banyak faktor yng mempengaruhi munculnya kuman resisten terhadap antibiotika, faktor yang paling penting adalah faktor penggunaan antibiotika dan pengendalian infeksi. Oleh karena itu penggunaan antibiotika secara bijaksana merupakan hal yang sangat penting, disamping penerapan pengendalian infeksi secara baik untuk mencegah berkembangnya kuman-kuman resisten tersebut kemasyarakat.
B. SARAN
Dianjurkan kepada setiap dokter dimanapun untuk lebih berhati-hati menggunakan obat antibiotika dalam dosis yang cukup tinggi dan mencegah pemakaian obat-obat antibiotika yang poten, sehingga mengurangi atau memperlamb resistensi terhadap antibiotika.Resistensi antibiotika adalah akibat yang harus ditanggung jika menggunakan antibiotika secara tak tepat. Kita butuh dosis yang lebih besar bila terjadi resistensi.








DAFTAR PUSTAKA


Anonimus.2014.Penjelasan Resistensi silang. http://fourseasonnews.com/2012/07/.html.                      ( Diakses senen,08 Juli 2014 ).    
Anonimus.2014.Resistensi silang. http://kamuskesehatan.com/ resistensi-silang (08 Juli 2014)               
Kee,J.L dan Hayes,E.R.1996.Farmakologi.Penerbit buku kedokteran EGC: Jakarta.
Striner,J.L.2009.Konsep dasar farmakologi.Penerbit Buku Kedokteran EGC :Jakarta.


1 komentar: