Paper Farmakologi II
OBAT ANTI PROTOZOA
Disusun Oleh
Fauzi
1202101010006
Kelas B
FAKULATAS KEDOKETRAN HEWAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
2014
BAB II
ISI
2.1. Obat untuk Trypanosomiasis
Penggunaan insektisida untuk membasmi lalat (sebagai vektor).
Obat trypanocidal yang sudah
digunakan untuk mengobati penyakit Surra di berbagai negara adalah: suramin, diminazene, isomedium,
quinapyramine dan cymelarsan. Diminazen telah berhasil baik untuk pengobatan
Surra pada sapi dan kerbau di India, Vietnam, Thailand dan Indonesia. Isomedium
dipakai di Malaysia dan Vietnam. Beberapa penelitian melaporkan adanya
resistensi obat terhadap beberapa strain Tripanosoma di Vietnam. Sampai saat
ini ternyata hanya Suramin yang efektif untuk pengendalian Surra, karena tidak
menimbulkan resistensi dan mempunyai efek residual selama tiga bulan sehingga
dapat digunakan sebagai pencegahan dan pengendalian.
1.
Melarsoprol
a.
Arsenic
organic yang menghambat enzim sulfhidril
b.
Dapat
menembus BBB (pilihan utama untuk penyakit tidur Afrika)
c.
Aplikasi:parenteral
d.
Efek
samping: reaktif ensefalopati fatal
2.
Nifurtimox
a.
Derivate
nitrofurazone
b.
Menghambat
trypanothione reductase
e.
Obat
pilihan utama untuk American trypanosomiasis, mucocutaneus leishmaniasis
f.
Efek
samping: alergi, iritasi GIT, gangguan SSP
c.
Suramin
g.
Senyawa
polianionik
h.
Obat
pilihan utama untuk stadium hemolimfatik awal African Trypanosomiasis
i.
Obat
alternative untuk Ivermectin pada tx onchocercosis
j.
Aplikasi:
parenteral
k.
Efek
samping: skin rash, gangguan GIT,
komplikasi neurologis.
2.2.Obat Untuk Amebiasis dan Trichomoniosis
Disentri ameba adalah penyakit infeksi usus yang ditimbulkan oleh Entamoeba
histolytica, suatu mikroorganisme anaerob bersel tunggal. Dapat dibedakan
menjadi 2 jenis, yaitu E. histolyca yang bersifat patologis dan E.
dispar yang bersifat nonpatologis
Penggolongan Obat
Obat antiprotozoa pada umumnya digunakan untuk infeksi oleh Entamoeba
histolika, trichomonas vaginalis, giardia lambria dan pneumocystis
carinii, walaupun batasan spesifikasinya tidak tajam. Beberapa dari obat
ini dapat digunakan sekaligus terhadap protozoa tersebut di atas.
Obat ambesiasi dapat dibagi
berdarkan efektivitasnya terhadap bentuk Entaboeba dalam 2 kelompok
besar, yaitu zat amebisida-kontak dan zat amebisida-jaringan.
1.
Obat
amebisida-kontak berdaya mematikan dengan jalan kontak langsung bentuk –mitura
dalam rongga usus, tetapi tidak di dalam hati. Obat-obat ini terdiri dari
beberapa senyawa kimia, yaitu:
a.
Senyawa
nitro-imidazol: metronidazol, tinidazol dll. Obat ini juga aktif terhadap
bentuk-jaringan dan dapat dianggap obat amebisida umum. Karena senyawa imidazol
ini terutama diserap di usus halus, maka khasiat amebisid-kontaknya kurang
penting. Di samping itu senyawa ini juga berperan terhadap protozoa lainnya ,
misalnya trichomonas vaginalis dan giardia lamnlia.
b.
Diloksanida
furoat: khusus digunakan untuk mematikan kista pada pembawa ameba, tidak untuk
disentri ameba.
c.
C.
kliokinol: karena efek sampingnya terhadap mata, obat ini tidak dianjurkan lagi
oleh WHO
2.
Obat
amebisida-jaringan berkhasiat terhadap bentuk-histolika di dinding usus dan
jaringan lain, yaitu zat-zat nitro-imidazol, (dihidro) emetin dan klorokuin.
Pilihan pertama adalah nitro-imidazol, karena juga aktif terhadap ameba
bentuk-usus. Emetin mematikan parasit disemua jaringan tubuh, tetapi jarang
digunakan lagi karena kardiotoksisitasnya. Derivate-dihidronya yang kurang
toksis masih digunakan parenteral di daerah endemis.
2.3.Obat Untuk Koksidiosis
Koksidiosis (berak darah pada
unggas) merupakan penyakit yang menyebabkan kerusakan di saluran percernaan,
terutama di usus halus dan sekum. Penyebabnya: Parasit Eimeria sp.
Penyakit koksidiosis disebabkan oleh
berbagai parasit protozoa yang termasuk dalam genus Eimeria. Saat ini
diketahui ada 9 spesies Eimeria yang menyerang ayam, dengan 6 spesies di
antaranya bersifat patogenik (menimbulkan sakit). Keenam spesies itu adalah E.
tenella, E. necratix, E. maxima, E. acervulina, E. brunetti dan E.
mitis.
Berikut penjelasan mengenai beberapa
contoh antikoksidia yang bisa digunakan oleh peternak guna mengobati
koksidiosis.
a.
Sulfonamide
Antikoksidia yang masuk ke dalam
golongan sulfonamide di antaranya sulfadiazine, sulfadimethylpirimidine,
sulfaquinoxaline, sulfamonomethoxine, sulfadimethoxine, dsb. Antikoksidia
golongan ini lebih efektif untuk mengatasi Eimeria yang menyerang bagian usus
halus (E. acervulina, E. maxima, E. necratix, E. brunetti, E. mitis). Namun
sulfaquinoxaline dan sulfadimethylpirimidine efektif juga untuk Eimeria usus
buntu (E. tenella).
Semua antikoksidia golongan
sulfonamide bekerja memutus siklus hidup Eimeria yaitu dengan mengganggu proses
reproduksi aseksual Eimeria. Dengan demikian, sporozoit akan dibasmi dan tidak
mampu untuk memperbanyak diri. Karena hanya merusak sebagian proses siklus
hidup Eimeria, maka antikoksidia golongan sulfa harus diberikan dengan sistem
3-2-3 (3 hari diberikan, 2 hari berhenti dan 3 hari diberikan lagi).
Potensi obat sulfanamide akan
meningkat 10 kali jika dikombinasikan dengan golongan diamino pyrimidine
(trimetoprim, pyrimethamin). Contoh produknya ialah Coxy dan Sulfamix
(sulfonamide tunggal), Antikoksi, Duoko, dan Trimezyn (sulfonamide kombinasi).
b.
Thiamine
antagonist
Salah satu antikoksidia yang
termasuk ke dalam golongan thiamine antagonist adalah amprolium. Jika
dikombinasikan dengan sulfaquinoxaline dapat memperluas spektrum kerja dan
meningkatkan potensi membasmi Eimeria usus halus dan sekum. Mekanisme kerja
dari amprolium ini sama dengan antikoksidia golongan sulfonamide, yaitu
mengganggu proses reproduksi aseksual Eimeria sp. Produk yang mengandung
amprolium contohnya Therapy dan Koksidex.
c.
Toltrazuril
Toltrazuril merupakan antikoksidia
golongan triazinetrione. Berbeda dengan antikoksidia sulfonamide dan amprolium,
toltrazuril bekerja efektif dengan cara mengganggu fungsi mitokondria, yaitu
dengan menghambat aktivitas enzim pada rantai pernapasan sel sehingga akan
menyebabkan kematian pada semua tahap perkembangan sel Eimeria sp. (reproduksi
seksual maupun aseksual). Contoh produk terbaru Medion yang mengandung
toltrazuril adalah Toltradex.
Selain pemberian antikoksidia,
tindakan lain yang harus dilakukan saat menghadapi koksidiosis di antaranya:
-
Berikan
vitamin A dan K untuk terapi supportif. Vitamin A berfungsi mempercepat
kesembuhan epitel mukosa usus yang rusak. Sedangkan vitamin K akan mengurangi
pendarahan yang terjadi.
-
lakukan
pengapuran lantai untuk mengurangi jumlah ookista yang ada.
d.
Toltradex,
Antikoksidia dengan Banyak Keunggulan
Toltradex merupakan sediaan larutan
oral yang mengandung toltrazuril 5%, yang tersedia dalam bentuk larutan
sehingga mudah diberikan lewat air minum. Berbeda dengan golongan sulfonamide,
Toltradex cukup diberikan selama 2 hari berturut-turut untuk mengatasi
koksidia, lebih cepat dan efisien.
Toltradex mampu menyembuhkan
(menurunkan % morbiditas/angka kesakitan) koksidiosis pada ayam lebih baik
dibanding produk sejenis dan kontrol. Hal ini dibuktikan melalui trial R&D
Medion (2013) menggunakan ayam broiler yang terinfeksi koksidiosis. Ayam
tersebut kemudian diberi Toltradex dosis 0,14 ml/kg berat badan melalui air
minum selama 2 hari berturut-turut. Hasilnya sebagai berikut:
2..4. Obat Untuk Sarkosporodiosis
Sarkosporodiosis adalah suato
penyakit asal protozoa yang sering ditemukan pada itik, reptile, dan mamalia.
penyakit ini disebabkan oleh protozoa golongan genus Sarcocystis. Family
Sarcocyistidae. Sarkosporodiosis pada itik terutama disebabkan oleh Sarcocystic
rileyi dan pada ayam disebabkan oleh Sarcocystis horwathi.
Pengobatan
Pengobatan sarkosporodiosis tidak umum dilakukan pada unggas.
Beberapa ahli melaporkan bahwa kalium yodida, sulfadimetoksin, amprolium, dan
obat antimalaria dapat dipergunakan untuk mengobati sarkosporodiosis pada
berbagai jenis hewan dengan derajat kebersihan yang bervariasi.
2.5.Obat Untuk Toxoplasmosis
Toxoplasma gondii merupakan parasit protozoa yang menginfeksi
sebagian besar spesies hewan berdarah panas (misalnya, kucing, babi, domba, dan
manusia) dan menyebabkan penyakit toksoplasmosis. Hanya kucing (kucing domestik
dan kerabat lainnya dalam keluarga Felidae) yang dikenal sebagai hewan inang
yang memungkinkan parasit untuk melengkapi siklus hidupnya.
Tiga obat yang paling sering
digunakan ke pasien, termasuk orang dengan HIV adalah pirimetamin (Daraprim),
sulfadiazin (Microsulfon), dan asam folinic. Namun, pasien hamil diobati dengan
spiramisin (Rovamycine) dan leucovorin (Wellcovorin) di samping obat yang
tercantum di atas. Pasien dengan HIV biasanya membutuhkan pengobatan seumur
hidup untuk menjaga parasit tetap ditekan. Obat lain kadang-kadang digunakan
adalah klindamisin (Cleocin), azitromisin (Zithromax), atau atovakuon (Mepron).
Obat ini digunakan terutama ketika pasien alergi terhadap pirimetamin atau
sulfadiazin. Dosis bervariasi, cara terbaik untuk menentukan perawatan medis
individu adalah didasarkan pada situasi kesehatan pasien.
pirimetamin (Daraprim) dan
sulfadiazin (Microsulfon) dapat menyebabkan efek samping yang signifikan,
terutama pada janin. Dua dari efek samping utama adalah penekanan sumsum tulang
(pengobatan leucovorin dapat mengurangi penekanan ini) dan toksisitas hati
untuk pirimetamin. Untuk sulfadiazin, efek samping bisa mual, muntah,
toksisitas hati, kejang, dan gejala lainnya. Obat ini digunakan pada wanita
hamil karena risiko infeksi oleh Toxoplasma biasanya lebih parah
daripada efek samping obat. Dokter yang merawat harus diberitahu cepat jika
efek samping terjadi.
2.6.Obat Untuk Plasmodium
Berdasarkan suseptibilitas berbagai
stadium parasit malaria terhadap obat malaria maka obat malaria di bagi dalam 5
golongan :
1)
Skizontosida
jaringan primer: proguanil, pirimetamin, dapat membasmi parasit pra eritrosit
sehingga mencegah masuknya parasit ke dalam eritrosit digunakan sebagai
profilaksis kausal.
2)
Skizontosida
jaringan sekunder primakuin, membasmi parasit daur eksoeritrosit atau
bentuk-bentuk jaringan P. vivax dan P. ovale dan digunakan untuk
pengobatan radikal infeksi ini sebagai obat anti relaps.
3)
Skizontosida
darah: membasmi parasit stadium eritrosit yang berhubungan dengan penyakit akut
disertai gejala klinis.
4)
Gametositosida:
menghancurkan semua bentuk seksual termasuk stadium gametosit P.falcifarum,
juga mempengaruhi stadium perkembangan parasit malaria dalam nyamuk Anopheles
betina
5)
Sporontosida:
mencegah atau menghambat gametosit dalam darah untuk membentuk ookista dan
sporozoit dalam nyamuk Anopheles
Obat-obat malaria yang ada dapat dibagi dalam 9 golongan
menurut rumus kimianya :
1)
Alkaloid
cinchona (kina)
2)
8-aminokuinolin
(primakuin)
3)
9-aminoakridin
(mepakrin)
4)
4-aminokuinolin
(klorokuin, amodiakuin)
5)
Biguanida(proguanil)
6)
Diaminopirimidin
(pirimetamin, trimetoprim)
7)
Sulfon dan sulfonamide
8)
Antibiotic
( tetrasiklin, minosiklin, klindamisin )
9)
Kuinilinmetanol
dan fenantrenmetanol ( meflokuin )
2.7.Penggunaan Obat malaria
Suatu obat mempunyai beberapa
kegunaan yang dapat dipengaruhi beberapa factor, seperti spesies parasit
malaria, respon terhadap obat tersebut, adanya kekebalan parsial tubuh, risiko
efek toksik, ada tidaknya obat tersebut di pasaran, pilihan dan harga obat.
Penggunaan obat malaria yang utama ialah sebagai pengobatan pencegahan
(profilaksisi ), pengobatan kuratif ( terapeutik ), dan pencegahan transmisi.
1)
Pengobatan
pencegahan (profilaksis). Obat diberikan dengan tujuan mencegah terjadinya
infeksi atau timbulnya gejala. Semua skizontisida darah adalah obat profilaksis
klinis atau supresif dan ternyata bila pengobatan diteruskan cukup lama ,
infeksi malaria dapat lenyap.
2)
Pengobatan
terapeutik (kuratif). Obat digunakan untuk pengobatan infeksi yang telah ada,
penanggulangan serangan akut dan pengobatan radikal. Pengobatan serangan akut
dapat dilakukan dengan skizontosida.
3)
Pengobatan
pencegahan transmisi. Obat yang efektif terhadap gametosit, sehingga dapat
mencegah infeksi pada nyamuk atau mempengaruhi perkembangan sporogonik pada
nyamuk adalah gametositosida atau sporontosida
2.8.Obat Untuk Leucocitozoon
Leucocytozoonosis merupakan penyakit
parasit dalam ( endoparasit ) yang disebabkan oleh protozoa, yaitu Leucocytozoon
sp. Protozoa ini ialah parasit darah yang hidupnya di dalam sel darah
merah. Leucocytozoon sp. yang menyerang ayam ada 2, yaitu L.caulleryi
dan L.sabrezi.
Pengobatan yang dapat dilakukan
ialah dengan memberikan antibiotik yang dapat menekan pertumbuhan schizont.
Antibiotik tersebut antara lain :
1)
Sulfonamid yang dikombinasikan dengan vitamin A dan K3
Sulfonamid berkerja dengan cara
menghambat asam folat sehingga pertumbuhan schizont ditekan dan infeksi
terhenti. Adanya vitamin A dan K3 akan membantu mencegah atau mengurangi perdarahan
dan kerusakan sel lebih lanjut.
2)
Kombinasi antara
Sulfonamid dan diaminopirimidin
Kombinasi antara sulfonamid dan
diaminopirimidin bersifat sinergis (saling menguatkan) dalam menghambat asam
folat sehingga pertumbuhan schizont dapat ditekan. Kombinasi obat yang lainnya
ialah sulfonamid dan pirimethamin maupun sulfonamid dan trimethoprim.
Sulfamonomethoxine merupakan golongan sulfonamid dengan daya kerja yang lama,
yaitu selama 24 jam sehingga bisa menekan asam folat secara optimal.
2.9.Obat Untuk Babessia
Pada penderita Babesia obat
yang sering digunakan adalah chloroquine. Apabila obat tersebut belua tau
kurang berhasil bisa diberikan quinine (kina) denga dosis 650 mg 3 kali sehari,
bisa dikombinasikan dengan clindamycine 600 mg 3 kali sehari per oral atau
secara intravena 120 mg 2 kali sehari. Pengobatan diberikan selama 7-10 hari.
Pentamidine boleh diberikan karena bisa mengurangi jumlah parasit di dalam
darah merah, dan menghilangkan demam, tetapi parasit tidak seluruhnya bisa
dibasmi. Akhir-akhir ini digunakan atovaquone dikombinasi dengan azithromycine
yang cukup efektif.
DAFTAR PUSTAKA
Tizard, Ian. 1982. Pengantar
Imunologi Veteriner. Philadelphia: W.B Saunders Company.
Neva
FA, 1994. Brown HW. Basic Clinical Parasitology. Prentice Hall
International.
Sriasi Gandahusada. 1991. Prevalensi
Protozoa usus. Jakarta: Medika.
Syarif, Amir., dkk. 2009. Farmakologi Dan Terapi. Edisi
5. Jakarta; Balai Penerbit FKUI

Tidak ada komentar:
Posting Komentar