Paper Farmakologi II
Farmakokinetik dan
Farmakodinamik Vitamin
Disusun Oleh
Fauzi
1202101010006
Kelas B
FAKULATAS KEDOKETRAN HEWAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
2014
I.
VITAMIN B KOMPLEKS
I.1.
Tiamin
a.
Farmakodinamik
Pada dosis kecil
(dosis terapi) tiamin tidak memperlihatkan efek farmakodinamik yang nyata. Pada
pemberian secara Intra Vena dengan cepat dapat terjadi efek langsung pada
pembuluh darah perifer berupa vasodilatasi ringan, disertai penurunan tekanan
darah yang bersifat sementara. Meskipun tiaminberperan dalam metabolism
karbohidrat, pemberian dosis besar tidak mempengaruhi kadar gula darah. Dosis
toksik pada hewan coba adalah 125-350 mg/kgBB secara IV.
b.
Farmakokinetik
Setelah pemberian
parenteral absorpsi berlangsung cepat dan sempurna. Absorpsi per oral
berlangsung didalam usus halus dan duodenum, maksimal 8-15 mg/hari yang dicapai
dengan pemberian oral sebanyak 40 mg. dalam 1 hari sebanyak 1 mg tiamin
mengalami degradasi di jaringan tubuh. Jika asupan jauh melebihi jumlah
tersebut, maka zat ini akan dikeluarkan melalui urin sebagai tiamin atau
pirimidin.
I.2. Riboflavin
a.
Farmakodnamik
Pemberian
riboflavin baik secara oral maupun parenteral tidak memberikan efek
farmakodinamik yang jelas.
b.
Farmakokinetik
Pemberian secara
oral ataupun parenteral akan diabsorpsi dengan baik dan didistribusi merata
keseluruh jaringan. Asupan yang berlebihan akan dikeluarkan melalui urin dalam
bentuk utuh. Dalam feses ditemukan riboflavin yang disintetis oleh kuman di
saluran cerna, tetapi tidak ada bukti nyata yang menjelaskan bahwa zat tersebut
dapat di absorpsi melalui mukosa usus.
I.3. Asam Nikotinat (Niasin)
a.
Farmakodinamik
bentuk amida dari asam nikotinat yaitu
niasinamid juga berefek antipelagra. Dalam badan asam nikotinat dan niasinamid
diubah menjadi bentuk aktif NAD (Nikotinamid Adenin Dinukleotida) dan NADF
(Nikotinamid Adenin Dinukleotida Fosfat). Keduanya berperan dalam metabolism
sebagai koenzim untuk berbagai protein yang penting dalam respirasi jaringan.
Asam nikotinat
merupakan suatu vasodilator yang terutama bekerja pada blushing area
yaitu dimuka dan leher. Kemerahan di tempat tersebut dapat berlangsung selama 2
jam disertai panas dan gatal. Pada dosis besar asam nikotinat dapat menurunkan
kadar kolesterol dan asam lemak bebas dalam darah.kedua efek ini tidak
diperlihatkan oleh niasinamid.
Pada dosis yang
besar umumnya terjadi efek samping berupa penurunan toleransi terhadap glukosa
sampai terjadi hiperglekemia. Selain itu terjadi kenaikan kadar asam urat dalam
darah., gangguan fungsi hati, gangguan lambung berupa mual sampai muntah serta
peningkatan motilitas usus. Reaksi anafilatik dilaporkan terjadi pada pemberian
secara IV.
b.
Farmakokinetik
Niasin dan
niasinamid mudah diabsorpsi melalui semua bagian saluran cerna dan didistribusi
keseluruh tubuh. Ekskresinya melalui urin sebagian kecil dalam bentuk utuh dan
sebagian lainnya dalam bentuk berbagai metabolitnya antara lain asam
nikotinurat dan bentuk glisin peptide dari asam nikotinat.
I.4. Piridoksin
a.
Farmakodinamik
Pemberian
piridoksin secara oral dan parenteral tidak menunjukkan efek farmakodinamik
yang nyata. Dosis sangat besar yaitu 3-4 g/kgBB menyebabkan kejang dan kematian
pada hewan coba, tetapi dosis kurang dari ini umumnya tidak menimbulkan efek yang
jelas. Piridosal fosfat dalam tubuh merupakan koenzim yang berperan penting
dalam metabolism berbagai asam amino.
b.
Farmakokinetik
Piridoksin,
piridoksal dan piridoksamin mudah diabsorpsi melalui saluran cerna. Metabolit
terpenting dari ketiga bentuk tersebut adalah 4-asam piridoksat. Ekskresi
melalui urin terutama dalm bentuk 4-asam piridoksat dan piridoksal.
I.5. Asam Pantotenat
a.
Farmakodinamik
Pada hewan coba
asam pantotenat tidak menyebabkan efek farmakodinamik yang penting dan bersifat
nontoksik. Sindroma yang terjadi berupa: kelelahan, rasa lemah, gangguan
saluran cerna, gangguan otot berupa kejang pada ekstremitas dan parestesia.
b.
Farmakokinetik
Pada pemberian oral
pantotenat akan diabsorpsi dengan baik dan di distribusi keseluruh tubuh dengan
kadar 2-45
. dalam tubuh tidak dimetabolisme, dan
diekskresikan dalam bentuk utuh 70% melalui urin dan 30% melalui tinja.
I.6. Biotin
Biotin
didalam tubuh berfungsi sebgai koenzim pada berbagai reaksi
karboksilasi. Penggunaan biotin dalam terapi belum jelas.
I.7. Kolin
a.
Farmakodinamik
Kolin berperan sebagai
precursor asetilkolin, suatu neurotransmitter. Dalam metabolism lemak kolin
berkhasiat lipoprotik, yaitu dapat menurunkan kadar lemak dalam hati. Kolin
berperan juga dalam metabolism intermedier yaitu sebagai dodor metal dalam pembentukan
berbagai asam amino esensial. Akan tetapi beberapa sifat kolin dianggap
bertentangan dengan sifat-sifat vitamin lain. Ternyata zat ini dapat disintetis
dalam badan dari serin dengan metionin sebagai donor metal.
Efek farmakologi kolin mirip
dengan asetilkolin tetapi dengan potensi lebih kecil.
b.
Farmakokinetik
Penggunaan per oral cukup
dengan LD50 (200-400 g). kebutuhan tubuh akan kolin sehari-hari belum dapat
ditentukan.
I.8. Inositon
Pemberian inositon tidak
menimbulkan efek farmakodinamik yang nyata, sedangkan fungsinya dalam tubuh
belum diketahui.
II.
VITAMIN C (ASAM ASKORBAT)
a.
Farmakodinamik
Vitamin C berperan sebagai
kofaktor dalam sejumlah reaksi hidroksilasi dan amidasi dengan memindahkan
elektron ke enzim yang ion logamnya harus berada dalam keadaan tereduksi; dan
dalam keadaan tertentu bersifat sebagai antioksidan. Vitamin C dibutuhkan untuk
mempercepat perubahan residu prolin dan lisin pada prokolagen menjadi
hidroksiprolin dan hidroksilisin pada sintesis kolagen. Perubahan asam folat
menjadi asam folinat, metabolisme obat oleh mikrosom dan hidroksilasi dopamine
menjadi norepinefrin juga membutuhkan vitamin C. Asam askorbat meningkatkkan
aktivitas enzim amidase yang berperan dalam pembentukan hormon oksitosin dan
hormon diuretik. Vitamin C juga meningkatkan absorpsi besi dengan mereduksi ion
feri menjadi fero di lambung.Peran vitamin C juga didapatkan dalam pembentukan
steroid adrenal.
Fungsi utama vitamin C pada jaringan adalah
dalam sintesis kolagen, proteoglikan zat organik matriks antarsel lain misalnya
pada tulang, gigi, dan endotel kapiler. Peran vitamin C dalam sintesis kolagen
selain pada hidroksilasi prolin juga berperan pada stimulasi langsung sintesis
peptide kolagen. Gangguan sintesis kolagen terjadi pada pasien skorbut. Hal ini
tampak pada kesulitan dalam penyembuhan luka, gangguan pembentukan gigi, dan
pecahnya kapiler yang mengakibatkan petechiae dan echimosis. Perdarahan
tersebut disebabkan oleh kebocoran kapiler akibat adhesi sel-sel endotel yang
kurang baik dan mungkin juga karena gangguan pada jaringan ikat perikapiler
sehingga kapiler mudah pecah oleh penekanan.
Pemberian vitamin C pada
keadaan normal tidak menunjukkan efek farmakodinamik yang jelas. Namun pada keadaan
defisiensi, pemberian vitamin C akan menghilangkan gejala penyakit dengan cepat
b.
Farmakokinetik
Vitamin C mudah diabsorpsi
melalui saluran cerna.pada keadaan normal tampak kenaikan kadar vitamin C dalam
darah setelah diabsorpsi. Kadar dalam lekosit dan trombosit lebih besar
daripada dalam plasma dan eritrosit. Distribusinya luas ke seluruh tubuh dengan
kadar tertinggi dalam kelenjar dan terendah dalam otot dan jaringan lemak.
Ekskresi melalui urin dalam bentuk utuh dan bentuk garam sulfatnya terjadi jika
kadar dalam darah melewati ambang rangsang ginjal yaitu 1,4 mg%.
Beberapa obat diduga dapat mempercepat
ekskresi vitamin C misalnya tetrasiklin, fenobarbital, dan salisilat. Vitamin C dosis besar dapat memberikan hasil
false negative pada uji glikosuria (enzymedip test) dan uji adanya darah pada
feses pasien karsinoma kolon. Hasil false positive dapat terjadi pada clinitest
dan tes glikosuria dengan larutan Benedict.
III.
VITAMIN A
a.
Farmakodinamik
Pada fibroblast atau jaringan
epitel terisolasi, retinoid dapat meningkatkan sintesis beberapa jenis protein
seperti fibronektin dan mengurangi sintesis protein seperti kolagenase dan
keratin. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan transkripsi pada inti dan
asam retinoat lebih kuat dalam menyebabkan perubahan tersebut. Asam retinoat
mempengaruhi ekspresi gen dengan bergabung pada reseptor yang berada di inti
sel. Terdapat dua kelompok reseptor, yaitu Retinoid Acid Receptors (RARs) dan
Retinoid X Receptors (RXRs). Reseptor retinoid segolongan dengan reseptor
steroid, hormone tiroid, dan kalsitriol.
Retinoid dapat mempengaruhi
ekspresi reseptor hormon dan faktor pertumbuhan sehingga dapat mempengaruhi
pertumbuhan, diferensiasi, dan fungsi sel target. Selain itu juga diperlukan
untuk pertumbuhan tulang, alat reproduksi, dan perkembangan embrio (Dewoto
2007).
b.
Farmakokinetik
Vitamin ini diabsorpsi sempurna
melalui usus halus dan kadarnya dalam plasma mencapai puncak setelah empat jam
tetapi absorpsi dosis besar vitamin A kurang efisien karena sebagian akan
keluar melalui feses. Gangguan absorpsi lemak akan menyebabkan gangguan absorpsi
vitamin A, maka pada keadaan ini dapat digunakan sediaan vitamin A yang larut
dalam air. Absorpsi vitamin A berkurang bila diet kurang mengandung protein
atau pada penyakit infeksi tertentu dan pada penyakit hati seperti hepatitis,
sirosis hepatis atau obstruksi biliaris. Berkurangnya absorpsi vitamin A pada
penyakit hati berbanding lurus dengan derajat insufisiensi hati (Dewoto 2007).
IV.
VITAMIN D
a.
Farmakodinamik
Vitamin D berperan dalam
pengatur homeostatis kalsium plasma. Meningkatkan absorpsi kalsium dan fosfat melalui
usus halus. Pengaturan kadar kalsium plasma, dipengaruhi juga oleh hormon
paratiroid (HPT) dan kalsitonin.
b.
Farmakokinetik
Absorpsi vitamin D melalui
saluran cerna cukup baik. Vitamin D3 diabsorpsi lebih cepat dan sempurna.
Gangguan fungsi hati, kandung empedu dan saluran cerna seperti steatore akan
mengganggu absorpsi vitamin D. Disimpan dalam bentuk inert di dalam tubuh,
untuk menjadi bentuk aktif harus dimetabolisme lebih dahulu melalui serangkaian
proses hidroksilasi di ginjal dan hati. Ekskresi melalui empedu dan dalam
jumlah kecil ditemukan dalam urine.
Menurut Dewoto (2007), dalam
sirkulasi, vitamin D diikat oleh α-globulin yang khusus dan selanjutnya
disimpan pada lemak tubuh untuk waktu lama dengan masa paruh 19-25 jam.
25-hidroksikolekalsiferol (25-HCC) mempunyai afinitas yang lebih besar terhadap
protein pengikat sehingga masa penuh dapat mencapai 19 hari.
V.
VITAMIN E
a.
Farmakodinamik
Vitamin E berperan sebagai
antioksidan dan dapat melindungi kerusakan membrane biologis akibat radikal bebas.
Vitamin E melindungi asam lemak tak jenuh pada membrane fosfolipid. Radikal
peroksil bereaksi 1000 kali lebih cepat dengan vitamin E daripada dengan asam
lemak tak jenuh dan membentuk radikal tokoferoksil. Radikal ini selanjutnya
berinteraksi dengan antioksidan yang lain seperti vitamin C yang akan membentuk
kembali tokoferol. Vitamin E juga penting untuk melindungi membrane sel darah
merah yang kaya asam lemak tak jenuh ganda dari kerusakan akibat oksidasi.
Vitamin ini berperan dalam melindungi lipoprotein dari LDL teroksidasi dalam
sirkulasi. LDL teroksidasi ini memegang peranan penting dalam menyebabkan
aterosklerosis. Selain efek antioksidan, vitamin E juga berperan mengatur
proliferasi sel otot polos pembuluh darah, menyebabkan vasodilatasi dan menghambat
baik aktivasi trombosit maupun adhesi lekosit. Vitamin E juga melindungi
β-karoten dari oksidasi (Dewoto 2007).
b.
Farmakokinetik
Vitamin E diabsorpsi baik
melalui saluran pencernaan. Beta-lipoprotein mengikat vitamin E dalam darah dan
mendistribusikan ke semua jaringan. Kadar plasma sangat bervariasi diantara
individu normal, dan berfluktuasi tergantung kadar lipid. Rasio vitamin E terhadap
lipid total dalam plasma digunakan untuk memperkirakan status vitamin E. Nilai
di bawah 0,8 mg/g menunjukkan keadaan defisiensi. Pada umumnya kadar tokoferol
plasma lebih berhubungan dengan asupan dan gangguan absorpsi lemak pada usus
halus daripada ada tidaknya penyakit. Vitamin E sukar melalui sawar plasenta
sehingga bayi baru lahir hanya mempunyai kadar tokoferol plasma kurang lebih
seperlima dari kadar tokoferol plasma ibunya. ASI mengandung
α-tokoferol yang cukup bagi bayi. Ekskresi vitamin sebagian besar
dilakukan dalam empedu secara lambat dan sisanya diekskresi melalui urin
sebagai glukoronida dari asam tokoferonat atau metabolit lain .
VI.
VITAMIN K
a.
Farmakodinamik
Pada kondisi tubuh normal
vitamin K tidak mempunyai aktivitas farmakodinamik, tetaoi pada pasien
difesiensi vitamin K, vitamin ini berguna untuk meningkatkan biosintesis
beberapa faktor pembekuan darah yaitu protrombin, faktor VII (prokonvertin),
farktor IX (faktor Christmas) dan faktor X (faktor Stuart) yang berlangsung di
hati.
Vitamin K merupakan suatu
kofaktor enzim mikrosom hati yang penting untuk mengaktivasi precursor faktor
pembekuan darah, dengan mengubah residu asam glutamate dekat amino terminal
tiap precursor menjadi residu γ-karboksilglutamil. Pembentukan asam amoni baru
yaitu asam γ-karboksilglutamat, memungkinkan protein tersebut mengikat ion
kalsium dan selanjutnya dapat terikat pada permukaan fosfolipid. Perubahan
tersebut diperlukan untuk rangkaian tahap selanjutnya untuk pembekuan darah.
Vitamin K hidrokuinon nampaknya merupakan bentuk aktif vitamin K. selain dari
pada faktor pembekuan darah yang vitamin K dependent karboksiglutamat
juga didapatkan pada berbagai protein antara lain pada osteocalcin tulang yang
diekskresi oleh osteoblast. Sintesis osteocalcin diatur oleh kalsitriol dan
kadarnya tergantung pada turnover rate tulang.
b.
Farmakokinetik
Absorpsi vitamin K melalui usus
sangat tergantung dari kelarutannya. Absorpsi filokuinon dan menakuinon hanya
berlangsung baik bila teradapat garam-garam empedu, sedangkan menadion dan
derivatnya yang larut air dapat diabsorpsi walaupun tidak ada empedu. Berbeda
dengan folikoinon dan menakuinon yang harus melalui saluran limfe lebih dahulu,
menadion dan derivatnya yang larut air dapat langsung masuk ke sirkulasi darah.
Vitamin K alam dan sintetis diabsorpsi dengan mudah setelah penyuntikan IM.
Bila terdapat gangguan absorpsi vitamin K akan menjadi hipoprotrombinemia setelah
beberapa minggu, sebab persediaan vitamin K di dalam tubuh hanya sedikit.
Metabolism vitamin K di dalam
tubuh tubuh tidak banyak diketahui. Pada empedu dan urin hampir tidak ditemukan
bentuk bebas, sebagian besar di konjugasi dengan asam glukuronat. Pemakaian
antibiotic sangat mengurangi jumlah vitamin K dalam feses, yang terutama
merupakan hasil sisntetis bakteri usus.
DAFTAR PUSTAKA
Mycek,M.J
dan richard.A.H dan pemela.2001.Farmakologi
edisi ke 2.Widya medika : Jakarta.
Kee,J.L
dan Hayes,E.R.1996.Farmakologi.Penerbit
buku kedokteran EGC: Jakarta.
Striner,J.L.2009.Konsep dasar farmakologi.Penerbit Buku
Kedokteran EGC :Jakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar